
Ratih terlihat sedang bermenung di atas sebuah batu yang berada persis di belakang rumah kakeknya di Bukit Lawang, Ia tiba-tiba teringat akan peristiwa yang telah merenggut nyawa kedua orang tua dan adik satu-satunya di Aceh tahun 2004 lalu saat Tsunami. Begitu menyedihkan waktu itu, ia dapat selamat karena sedang liburan di Sumatera Barat di tempat kakeknya.
Tanpa disadari, butiran – butiran bening mengucur dari matanya yang bundar. Bibirnya bergetar, jemari tangannya saling mencengkram dengan kuat. Ingin berteriak rasanya, tetapi Ia takut membuat kakeknya khawatir.
Perlahan tapi pasti. Sang surya mulai ogah menampakkan sinarnya, langit berwarna kuning kemerahan menyiratkan kamarahannya pada manusia yang tidak lagi mau memperdulikan nasib lingkungannya. Angin gunung berhembus sepoi – sepoi menyapu rumpunan ilalang yang selalu setia menemani Ratih setiap sore melepaskan kerinduan pada keluarganya. Belalang rumput sesekali muncul kepermukaan dan meloncat kian kemari membiaskan kesenangan yang teramat sangat, seolah – olah tidak
mau tahu dengan kesedihan yang sedang dialami oleh gadis berkulit kuning langsat itu.
Jilbabnya yang putih bersih itu tersapu oleh angina senja itu. sudah hampir waktu sholat ma’rib. Langit semakin gelap. Kumpulan burung pipit yang biasanya “nongkrong” di persawahan terlihat terbang berkoloni untuk kembali ke sarangnya masing – masing.
Hawa dingin mulai menusuk tulang menggetarkan reseptor suhu tubuh. Ratih memangku tubuhnya sendiri dengan kuat. Memang daerah sekitaran Puncak lawang terkenal sangat dingin jika sudah menjelang malam. Suasana yang tadinya agak ramai oleh aktivitas makhluk hidup sekarang agak hening, hanya suara nyanyian jangkrik yang menghiasi perguliran waktu.
Sementara itu dari kejauhan tampak sesosok pria dewasa dengan janggut yang sudah beruban sebagian sedang memperhatikan Ratih. Ia adalah kakek Ratih. Ratih sekarang tinggal bersama kakeknya disini. Hanya berdua dalam sebuah pondok kecil berukuran 4 x 6 meter yang berdindingkan bambu dan beratapkan daun rumbia yang dikeringkan.
Ia menghampiri cucunya dengan langkah tertatih – taih karena sebelah kakinya pincang disebabkan kecelakaan saat bertugas jadi tentara dulu. Tangannya terlihat membawa sebuah kain tebal berwarna merah muda dengan motif bunga lili untuk menyelimuti tubuh cucunya yang kedinginan itu.
“ sudahlah nak, jangan terlalu dipikirkan, malam semakin dingin nanti kamu sakit nak “ kakek itu menyelimuti kain tadi sambil mencoba mengajak cucunya itu untuk bangkit dari tempat duduknya.
“ eh..kakek..” Ratih bangkit dari tempat duduknya sambil cepat – cepat menghapus air mata. Ia sangat sayang sekali pada kakeknya itu, oleh karena itu ia tidak mau membuatnya ikutan bersedih.
tunggu aja lanjutan kisahnya..........
< http://minangwriter.wordpress.com >